Kata-Kata Itu Tidak Pernah Istirahat!
Saya tidak tahu selain saya apakah ada warga Malaysia yang sudah menonton film “Istirahatlah Kata-Kata” (IKK). Rasa ingin tahu dan antusias membawa saya ke Indonesia, tepatnya di kota Bandung untuk menonton film itu. Saya benar-benar mahu tahu bagaimana Wiji Thukul yang selalu disebut namanya bukan hanya di Indonesia, tapi juga di Malaysia, diperankan dalam satu film. Wiji Thukul memang populer di Malaysia karena puisi-puisinya yang menyuluhkan semangat dan pemberontakan. Justru, tidak hairanlah jika buku-buku puisinya laku di Malaysia dan banyak yang membacakan puisinya di acara-acara kesenian. Namun demikian, dan sayang sekali, mungkin tidak banyak daripada kalangan mereka ini yang tahu sejauh mana penglibatan politik Wiji Thukul. Bahkan ada yang mengabadikan namanya semata-mata tapi bukan perjuangannya.
Pada mulanya, saya pikir saya harus menonton sesegera mungkin karena saya khawatir ia akan mendapat penolakan dan dibubarkan pemutaran film seperti nasib “Jagal” dan “Senyap”. Tapi, pemutaran IKK pada saat itu seperti aman-aman saja. Namun, anehnya pula, ia menerima boikot dari beberapa orang yang tidak setuju tentang banyak hal mengenai film itu. Jam 11 pagi saya ditemani oleh beberapa orang teman untuk menonton IKK pada hari keempat pemutarannya di bioskop Ciwalk XXI. Saya pikir kami harus antrian atau ada banyak orang yang akan menonton, tapi sekali lagi saya salah. Selain kami, cuma 10 orang yang ada di ruangan bioskop dan semua dari mereka ialah gadis-gadis muda yang datang bersendirian. Saya menebak usia mereka mungkin dalam 20-an atau lebih muda lagi. Apakah yang membuatkan mereka ke sini? Mereka tahu tentang sejarah Wiji Thukul? Atau selepas ini, mereka akan cari tahu tentang siapa sosok hebat itu? Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban. Tapi setidaknya mereka ada usaha untuk mengenali Wiji Thukul lewat film.
Film ini menggambarkan sedikit kehidupan Wiji Thukul sewaktu ia lari dari penguasa Indonesia pada sekitar tahun 1996. Wiji Thukul terpaksa melarikan diri dari Solo, Jawa Tengah ke Pontianak, Kalimantan selama delapan bulan dan sampai harus mengubah nama menjadi Paul untuk menyembunyikan identitasnya. Sementara itu, istri dan anak-anak Wiji Thukul pula menghadapi begitu banyak kesulitan, seperti difitnah, didatangi oleh aparat, buku-buku dijarah dan gerak-geri mereka diawasi. Mereka harus mengorbankan kebebasan mereka karena keberanian melawan kejahatan pemerintah.
Seperti saya yang sangat mengharapkan IKK mengangkat peran politis Wiji Thukul, mereka yang mahu melihat film ini sebagai film penuh aksi dan semangat, mungkin akan merasa kecewa. Sebaliknya, film ini melankolis, metafora, simbolis dan dramatis. Harus diingat bahwa judul awal film ini adalah “Solo, Solitude”, entah Solo itu mengacu kepada arti sendirian ataupun kota Solo tempat di mana ia dan keluarganya tinggal. Justru, tidak heran jika tema kesunyian dieksplorasi dengan berlebihan dan minim dialog dalam film itu. Kesepian itu mungkin untuk menunjukkan yang Wiji Thukul dan keluarganya juga ialah manusia biasa yang mempunyai perasaan. Namun begitu, dalam dunia film, sebetulnya ada saja film yang melankolis dan penuh drama tapi pada saat sama ia juga masih politis.
Lalu, apabila “Istirahatlah Kata-Kata” menjadi judul yang lebih populer, film ini coba mengangkat kekuatan perlawanan Wiji Thukul yang ditakuti oleh penguasa. Harus diingat, ia ditakuti bukan cuma karena puisi-puisinya yang sarat dengan pesan perlawanan, tapi sebetulnya karena Wiji Thukul ikut mengorganisir dan memimpin massa sepertimana dalam demonstrasi pemogokan 14,000 buruh pabrik di Solo yang dianggap fenomenal dalam zaman Orba. Ia aktif sebagai Kepala Divisi Propaganda Partai Rakyat Demokratik (PRD) pada waktu itu. Sayang sekali, hal ini tidak tercermin dalam film ini. Meskipun begitu, ada beberapa adegan yang mungkin tidak pernah terjadi, seperti kaleng Coca Cola yang biasanya tidak ada di hotel murah, puisi “Kemerdekaan adalah nasi, dimakan jadi tai” yang terinspirasi setelah Wiji Thukul pipis padahal puisi itu jauh-jauh sudah ada yaitu pada tahun 1982, perlombaan olahraga bulu tangkis dalam rangka peringatan hari ulang tahun ABRI dan lainnya. Adegan-adegan itu mungkin mendramatisasi sikap dan karya Wiji Thukul yang sangat jelas dalam mengkritik kapitalisme, kebebasan dan nasionalisme semu.
Sekarang, “Hanya ada satu kata: Lawan!” sering menjadi slogan dalam setiap orasi dan sorak para demonstran di Indonesia, bahkan di Malaysia juga. Puisi “Perlawanan” itu diciptakan oleh Wiji Thukul pada tahun 1985 pada saat gerakan politik menentang kuasa Orba belum berani muncul dengan terbuka. Ia justru lantang dan aktif berpolitik, bertemu dengan buruh-buruh pabrik, berdiskusi, berkesenian, terlibat dengan kerja-kerja pengorganisiran dan macam-macam lagi. Wiji Thukul memang sudah punya kesadaran berorganisasi dan sudah di tahapan ingin membangun sebuah partai politik yang berwatak kelas. Pada saat-saat demonstrasi itulah, banyak buruh dan aktivis ditangkap dan disiksa oleh penguasa dan tentara. Mata Wiji Thukul juga cedera parah karena dipukul dengan senapan tentara. Tapi, Wiji Thukul tidak sesekali menyerah karena ia tahu setiap perjuangan melawan penindasan pasti mempunyai resiko berhadapan dengan kekejaman aparat. Wiji Thukul yang tak takut takut membuatkan penguasa dan tentara selalu menjadikannya sasaran intimidasi dan penangkapan.
Wiji Thukul tetaplah Wiji Thukul. Ia bukan penakut, tidak menyerah dan tidak berputus harapan. Bahkan, Wiji Thukul kembali setelah beberapa bulan bersembunyi. Begitu juga dengan Sipon, Fitri dan Fajar. Rakyat kecil yang terbungkam suara mereka. Tapi, kata-kata itu tidak pernah istirahat. Malah, masih lagi kuat menuntut sejuta macam perkara yang tidak dilunasi oleh pemerintah sampai sekarang. // Tidurlah kata-kata / kita bangkit nanti / menghimpun tuntutan-tuntutan / yang miskin papa dan dihancurkan / nanti kita akan mengucapkan / bersama tindakan / bikin perhitungan / tak bisa lagi ditahan-tahan //. Puncaknya ialah pada saat akhir kekuasaan Soeharto pada reformasi tahun 1998. Bersama puluhan aktivis lain, Wiji Thukul hilang menjadi korban penculikan aparat negara. Nasibnya pula tidak diketahui sampai sekarang.
Adegan terakhir pada saat Wiji Thukul mengambil segelas air untuk Sipon cukup menyentuh hati. Ia tidak muncul-muncul dari dapur dan Sipon dengan perasaan sedih berlanjut dengan menyapu. Kata Sipon, “Aku ga mau kamu datang, tapi aku juga ga mau kamu pergi. Aku cuma mau kamu ada”. Dalam Sipon ada Thukul. Ketabahan yang selalu dicemburukan oleh saya. Ketika film IKK hampir berakhir, pelan-pelan saya berbisik kepada teman di sebelah saya, “Kita harus terus mencari Thukul, tapi kita juga harus mencari Thukul dalam diri kita. Apakah kita senyali dan sepolitis Thukul atau hanya basa-basi membaca puisi dan sekedar menggunakan nama Thukul?”. Suara siulan Sipon, siulan lagu Darah Juang, yang mengawali film ini, sudah mengobarkan emosi,
“Bunda relakan darah juang kami”….
- Sharifah Nursyahidah
“Bunda relakan darah juang kami”….
- Sharifah Nursyahidah
Kata-Kata Itu Tidak Pernah Istirahat!
Reviewed by Kaunterkulture
on
06:00
Rating:
Reviewed by Kaunterkulture
on
06:00
Rating:


Post a Comment