Ulasan: Homicide Complete Discography

"Matahari terlalu pagi mengkhianati. Pena terlalu cepat terbakar."
Saya tidak menemukan kalimat yang cocok untuk memulai tulisan ini selain mengutip bait pertama dari lagu ‘Barisan Nisan.’ Ketika diminta menuliskan ulasan untuk rilisan ini saya berfikir, memang matahari terlalu cepat muncul dan menagih saya dengan rutinitas hidup yang lain, hingga terpaksa mencari-cari waktu dan memelihara pena agar tidak terbakar sebelum menuntaskan tulisan tidak sepertinya untuk nama sebesar Homicide.
Saya mungkin termasuk daftar orang-orang yang terlewat mengenal Homicide, iaitu pada sekitar tahun 2004. Rilisan pertama mereka yang saya dengarkan adalah ‘Himne Penghitam Langit /Prosa Tanpa Tuhan’, yang berupa sebuah split tape bersama Balcony, menyertakan di dalamnya lagu ‘Puritan’ yang sempat kontroversial dan melegenda dengan slogan ‘fasis yang baik adalah fasis yang mati’ itu.
Homicide bubar pada tahun 2007 dengan meninggalkan beberapa rilisan, dan rilisan terakhir ‘Illsurrekshun’ dikeluarkan pada tahun 2008, setahun sesudah mereka resmi bubar. Sekitar period 2013-2016, keseluruhannya dirilis ulang dalam bentuk piringan hitam secara terhad, dan akhirnya, mereka memunculkan kemasan pakej diskografi CD yang memuat seluruh karya mereka di awal tahun ini.
Saya sudah akrab dengan kebanyakan lagu-lagu dari diskografi ini, yang diambil dari tiga rilisan penting mereka iaitu Godzkilla Necronometry, Barisan Nisan dan ‘Illsurrekshun’; yang seluruhnya seringkali saya putar ulang dan nikmati untuk membunuh waktu di mana-mana saja. Lagu-lagu mereka menemani saya bertahun-tahun tanpa jemu; di ruang kerja, di kamar tidur, saat membaca mahupun dalam perjalanan ke destinasi manapun, yang sering mengingat dan menginspirasi dengan khidmat, jauh lebih intim dari seorang mantan kekasih. Bait-bait mereka seperti sebuah terapi dan pesan-pesan yang membuat saya selalu melihat dunia dengan waspada dan membuka mata pada teori-teori kritis.

Pakej diskografi ini, menghimpun 33 lagu (termasuk 6 buah lagu yang dikutip dari demo dan kompilasi) , dimuat dalam 2 CD, sebuah rilisan yang pantas untuk dimiliki sesiapapun; baik yang sudah memiliki rilisan-rilisannya atau untuk yang kelewatan memiliki rilisan-rilisan sebelumnya yang diproduksi secara terhad.
Homicide adalah lebih dari sekedar sebuah grup hip hop, saya senang menyebutnya sebuah fenomena. Sebuah kolektif muzik yang lain dari yang lain dan tampil berbeza, dan secara peribadi, saya sudah menyukai mereka sejak pertama kali mendengarkannya. Saya menemukan Homicide di dalam setiap rilisannya menawarkan ketertarikan khusus untuk saya secara peribadi; lirik, muzik dan artwork-nya.

Mengusung tema-tema yang ‘sekarat’ dalam lirik-lirik mereka, mereka menyentuh setiap hal mulai situasi scene hip hop local, fasisme agama, isu nasional dan global, penentangan terhadap para tiran, konsumerisme, kritik social hingga neo-liberal, mereka buas menyerang tanpa basa-basi, tanpa wacana kanan atau kiri, semuanya dimuntahkan dengan terang dan lugas dalam kemasan kata-kata yang menggugat. Prosa-prosa mereka ditulis dengan cerdas dengan kalimat ‘berisi’ yang sambung menyambung dan saling berkait, rima yang lebih tajam dari sekedar pantun dengan kalimat keras tanpa santun, perhatikan bagaimana mereka menghantam situasi scene hip hop lokal di lagu ‘Semiotika Rajatega’, membidas para fasis berkeduk agama di lagu ‘Puritan’ atau seruan-seruan resistansi di ‘From Ashes Rise’, Homicide ternyata menawarkan muzik hip hop yang liar dan beda untuk ukuran zaman, dan melengkapinya dengan amunisi lirik-lirik yang tajam menikam, frontal dan mencabar keintelektualan masing-masing pendengar.

Jujur saja, meneliti lirik-lirik Homicide untuk pertama kali, telah menjadi cabaran untuk saya mencari tahu di mana-mana; memburu buku dan bahan apapun untuk memahami topik pembahasannya; sebuah motivasi untuk mempelajari dan mengetahui banyak hal yang belum saya terokai. Bayangkan cukup di satu lagu sahaja mereka merakit nama-nama seperti Bakunin, Fukuyama, Sisifus, Walter Benjamin, Farakhan hingga Amrozy; mengheret ke mana-mana, memetik peristiwa yang di sini, tragedi yang di sana, menikam apa saja tanpa terikat keberpihakan pada kanan atau kiri, saya mendengar dan sekaligus mempelajari banyak hal-hal baru dari setiap lagu-lagu mereka. Mereka menorehkan falsafah, politik dan peristiwa dengan penulisan yang membentuk identiti yang melekat, ini gaya sastera khusus Homicide. Sebagai penikmat sastera sekaligus penggemar puisi, saya selalu tertarik dengan permainan bahasa dan susunan kata mereka yang bijaksana; ringkas namun tegas, puitis sekaligus kritis.

Membentang garis panjang 3 rilisan utamanya, Homicide berimprovasi dalam meneroka wilayah baru muzik hip hop. ‘Barisan Nisan’ tampil sebagai kerja solo Morgue Vanguard tanpa adanya Sarkasz, dan album ini terdengar lebih ‘emo’, berbaur dengan nada kelam, gelap dan murung tanpa menghilangkan gaya khas liriknya. ‘Rima Ababil’ mungkin terdengar lebih ‘friendly’ tetapi sisi liriknya tetap mengejutkan dan cukup untuk menaikkan setiap alis yang mendengarkan. ‘Membaca Gejala Dari Jelaga’ adalah lagu paling sering saya dengar ulang belakangan ini, berupa sebuah surat peribadi yang sangat emosional. Menyentuh rilisan paling hujung, ‘Illsurrekshun’, adalah penanda Homicide sudah benar-benar matang dan ‘masak’, ‘Illsurrekshun’ adalah sebuah insureksi nyata terutama di lagu ‘Tantang Tirani’, salah satu lagu yang paling fast di rilisan ini, hingga tidak ada yang disesalkan ketika mereka harus bubar, saya berpandangan mereka telah sampai ke titik hujung untuk terus mengusung nama Homicide.
Selebihnya, 6 buah lagu akhir yang tersisa dikutip dari kompilasi dan demo, ‘Nekrodamus’ seingat saya, adalah track dari Trigger Mortis, sebuah projek selepas bubarnya Homicide yang kemudiannya turut senyap seiring waktu.

Sebelum terlupa, satu lagi keunikan Homicide adalah artwork yang mengiringi rilisan-rilisannya mulai dari rekabentuk sampul, poster dan flier, selalu menawarkan desain yang mengesankan dengan memanipulasi wajah-wajah ikon kiri dari Tan Malaka hingga Marx, hingga filosof ‘gila’ seperti Nietzsche dan aktivis sosial seperti Munir. Sebagai pelengkap rilisan ini, sebuah booklet setebal sekitar 150 halaman turut tersedia, memuatkan koleksi foto-foto Homicide sejak awal berdiri hingga bubar, sampul rilisan, poster, flier, liner notes dari setiap rilisan, wawancara hingga yang terpenting, deretan lirik-lirik kejam mereka yang tidak pernah habis untuk terus menerus dirapal.

“Meski kalian cuba bunuh kami berkali, kami akan lahir berkali bergenerasi…”
Homicide Complete Discography di terbitkan oleh Grimloc Records
dan Tandang Records edisi cetakan Malaysia.
Ulasan: Homicide Complete Discography
Reviewed by Kaunterkulture
on
11:26
Rating:

Post a Comment